Disela-sela
kakiku melangkah maju, pandanganku masih dipenuhi kaca masa lalu. Betapa
bodohnya aku waktu itu menyia-nyiakan cintamu. Sesal masih berjejal,
kuharap maafku bisa ditebus agar lukamu tak kekal.
Jika
memang padamu jalan itu masih menuju, bolehkah kakiku melangkah kembali ke
situ? Sebab sesal tak pernah kenal kata ‘awal’, maka maklumi saja jika waktu
terlambat membawanya datang. Ada rasa takut untuk mengetuk pintu hatimu
lagi.
Ada rasa malu untuk memintamu kembali. Semoga sesal ini untuk yang
terakhir kali, aku tak ingin semuanya terulang lagi.
Jika
memang tak semua bisa mendapatkan kesempatan kedua, bolehkah darimu aku
mendapatkannya? Akankah janjiku kamu percaya? Untuk menjadikan segala
sesuatunya baik-baik saja, dan kita mulai kisah cinta berikutnya. Semesta
yang membawaku kembali, pada dia, sosok yang memang paling mengerti. Maka
dari itu ada kenyataan yang tak perlu kuhindari.
Bukankah
hidup adalah perulangan? Maka mencintaimu lagi akan aku lakukan agar semesta
tetap pada kebiasaannya.
Dulu
kita sama-sama berteori soal percaya. Katanya cinta hanya untuk orang-orang
yang percaya. Lalu teori itu musnah seketika karena ulahku. Mungkin, ada yang
tak pantas diberi kesempatan kedua. Mungkin, kata percaya sudah tak punya
makna. Tapi aku ingin jadi satu-satunya manusia dalam hidupmu yang menguburkan
segala kecewa dan luka. Yang tak lagi menggunakan logika semata, tapi hati
juga. Boleh ya? Jika ku dapat kata iya. Perulangan rasa mungkin akan menjadi
petualangan bagi cinta. Mengumpulkan rasa sebanyak-banyaknya hingga hati
mendewasa.
Jika
memang memberiku percaya tak lagi kamu anggap mudah, setidaknya biarkan aku
mengubur kesalahan yang sudah-sudah. Tak perlu memberiku kesempatan kedua,
biarkan aku membangun jalanku sendiri agar kita kembali berdua. Tak perlu
percaya aku, percaya saja hati dan perasaanku. Tak perlu percaya kata-kata,
sebab akan kujadikan semua perbuatan ini nyata. Untukmu aku berusaha, semoga
padaku hatimu mau membuka celahnya.
Bukan
tanpa rencana, jika kepadamu lagi hatiku bermuara. Bukan suatu kebetulan,
jika kamu yang kutetapkan sebagai pilihan. Ada hati yang berlutut memintamu
untuk kembali. Ada hati yang tak mau menuju kepada yang bukan kamu. Ada
kesalahan yang menunggu untuk diperbaiki, ada penyesalan yang tak akan terulang
di kedua kali.
Akan
kupastikan semua takkan terasa sama, kamu hanya cukup mempercayainya. Akan ada bulir-bulir rasa cinta yang baru di dalam air
raksa cintaku. Meminumnya akan membuatmu menjadi raksasa di duniaku. Hingga tak
ada ruang untuk seorang dia yang entah kemana setelah hilang meninggalkan
jelaga hitam. Sekarang rasakan bulirnya mengobati luka yang telah aku toreh.
Katakan padaku kalau rasanya sama, maka aku akan teteskan air mataku agar mati
semua racunnya. Meski untuk meneteskannya aku harus buta.
Bukan
salahmu, jika dulu tak memasang rambu. Hingga tertabraklah hatimu pada aku yang
masih ragu. Hingga terjatuhlah hatimu pada aku yang tak bisa memapahmu. Hingga
hancurlah hatimu pada aku yang berusaha meyakinkan soal cinta, padahal itu
hanya bagian rasa kasihan saja. Mungkin begini cara Tuhan menegurku. Melukaimu
dahulu, lalu mengembalikan aku untuk menyembuhkan hatimu. Lalu sempurnalah
formula temu yang tak sia-sia itu.
Mungkin
memang begini cara kerja karma. Dibiarkannya aku melakukan salah, tanpa tahu
nantinya tumbuh rasa yang tak kenal cara mengalah. Tolong, jangan pergi ke lain
hati. Jangan menambah sesal yang belum berhenti. Meski terlambat, aku hanya
ingin menjadi yang tepat pada waktunya. Mari kita mulai lagi
perlahan-lahan, aku yakin kamu tak ingin membangun cinta yang asal-asalan.
Mungkin
akan ada kesalahan yang sulit untuk dimaafkan. Maka izinkan aku menebusnya
namun kini dengan sebuah ketetapan, bahwa aku sudah memilihmu sebagai tujuan. Dan
segala kesempatan tidak akan aku lewatkan. Apalagi kamu, yang tidak akan aku
lepaskan. Maka terimalah, jika aku menginginkanmu lagi sebagai pelabuhan.
Merugilah
aku, jika melewatkanmu, karena mengenalmu saja sudah jadi cerita indah dalam
hidupku. Bagaimana kalau kita ulangi lagi,
perkenalan itu. Tanpa harus mengingat bahwa ini adalah repetisi. Ini adalah
proses memperbaiki.
Mungkin,
dengan mengulang kita bisa mempertegas ruang yang sempat menghilang. Kini
sepenuhnya ruang di hatiku kusediakan untukmu. Bukan soal pantas, tapi hanya
denganmu segala perasaan-perasaan itu bisa pas kulepas. Tak kurang tak
lebih. Aku tak ingin lagi membatas-batasi ruang di hati. Karena sepenuh dan
seutuhnya telah legal jadi rumahmu. Semoga setelah maaf kukantongi dan
percaya itu kembali, ruang dihatimu masih sama nama pemiliknya. Aku.
Menjadi
sepenuhnya milikmu adalah kini tujuanku. Mari kita susun segalanya satu per
satu. Mari jatuhkan hatimu lagi kepadaku. Akan ada saatnya semua nanti hampir
runtuh, namun biarkan aku selalu ada saat kamu butuh. Ini hatiku
kupercayakan padamu. Ini janjiku kuucapkan, tidak untuk kulupakan. Ini maafku
kumohonkan, semoga hatimu membukakan jalan. Kembalilah, dan jadilah pemilik
dari segala rindu. Terimalah aku dan biarkan lengan- lengan kita bersatu.
Karena telah kutemukan titik ternyaman untuk kutinggali; hatimu.
Maukah kamu menjentikkan jarimu agar
semua harapku mengulang rasa, segera mewujud nyata?
tak semua pengulangan itu baik.
mengulang kesalahan, contohnya. maka biarkan kenangan manis saja yang kita
ulang. yang telah terlanjur pahit biar saja kita tinggal di belakang.
kesempatan sebetulnya mempunyai
jumlah yang tak terhitung, jika memang hati kita punya rasa yang tak terhingga.
bukankah begitu?

0 Response to "Mengulang rasa"
Post a Comment