Jangan paksa aku memutarbalikkan cinta menjadi benci hanya karena sikapmu itu. Kamu tahu, tak selamanya cinta menang melawan luka. Mungkin akan datang saatnya aku meninggalkanmu begitu saja, tanpa mau menengok lagi untuk menjawab semua tanya. Semula, aku tahu kita tak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Ketika cinta terlampau besar untuk kutinggalkan, namun terlampau kecil untuk terlihat di antara tingginya egomu. Entah siapa yang salah, aku ataukah kamu? Atau kita hanya bosan bermain-main di hati yang itu-itu saja?
Tak akan bisa bertahan jika kamu terus-menerus memaksakan
kehendak dan aku menjadi yang tak mampu berkata tidak. Tak akan bisa sejalan
jika melulu kita berbeda pandangan, diakhiri dengan hati yang enggan mengalah.
Tak akan bisa sejajar jika yang tinggi tak mau merendah, sedang yang rendah
enggan menyocokkan. Entah kita yang tak perlu lebih keras untuk mempertahankan,
atau ini hanyalah sebatas ujian.
Sudah puas mengatasnamakan perasaan diantara semua peraturan
yang kau paksakan? Kasihan hati, dialah pihak yang paling tersakiti. Setelah
temboknya kau buat runtuh, lalu ingin kau buat kekuatannya terbunuh?
Katamu terserah, tapi mencegatku memilih arah. Katamu ini
itu bebas, tapi saatku mulai melangkah segala hakku kau rampas. Kamu melenggang
tanpa memberiku ruang, hingga tiap bagian dari diriku perlahan hilang. Setiap
detik selalu kau tawarkan pilihan, tapi telingamu enggan mendengarku memberikan
jawaban. Bolehkah jika kali ini aku yang menyugguhkanmu sebuah pilihan?
Pertahankan egomu, atau lepaskan aku?
Bisa kupahami jika kamu ingin merasa sangat dicintai. Namun,
apakah kamu lupa aku juga punya hati? Tak bisakah kamu memberi cinta yang sama
besarnya?
Mengapa hanya kamu yang boleh bilang kecewa, sementara aku yang harus
terus berusaha?
Aku lupa rasanya bahagia ketika kamu sulit dibahagiakan.
Sebab kunci bahagiaku terlanjur kutitipkan padamu; jika kamu tidak bahagia,
bagaimana bisa aku bahagia?
Rupanya mencintamu sebesar ini masihlah belum cukup untuk
mempertahankan kita. Lalu aku bisa apa?
Beberapa hal kusimpan dalam diam, hingga kamu bahkan tidak
mendengar betapa sakitnya semakin menjalar. Beberapa kesalahan entah memang
terampuni atau justru sudah tak mampu kuingat lagi. Beberapa usaha mencapai
titik lelahnya, dan membuatku sedikit demi sedikit ingin menyerah. Tanpa
kuduga, cinta yang begitu besar pada akhirnya membunuh diriku sendiri.
Aku tak bisa terus-terusan jadi layar tempat jemarimu
memencet tombol-tombol pada remot kemauanku. Telah berkali-kali kau kekenyangan
oleh sesendok ‘iya’ yang kucekokan. Kini gantian aku yang kelaparan akan sebuah
kejujuran perasaan. Bahwa aku tak lagi merasa nyaman dengan ulahmu yang selalu
berteman dengan sejuta pembenaran. Bahwa selalu kamulah rajanya, dan akulah
pengikutnya. Inikah namanya cinta jika selalu mendahulukan strata?
Acuh tak acuh kamu menyuruhku untuk patuh. Lalu seakan-akan
akulah yang paling butuh, hingga dengan kekerasan hatimu aku mudah luluh.
Tidak. Tidak lagi seharusnya aku begini, dipermainkan oleh egomu yang
berputar-putar seperti tali yang mencekikku sampai mati.
Yang kuingin kita bisa kembali ke hari lalu, ketika tak ada
perselisihan dua ego.
Yang kuingin kita saling hentikan keras kepala
masing-masing yang membuat kita menjadi asing. Yang kuingin kita yang saling
mengisi, bukan saling lupa posisi. Silakan kamu putuskan; perbaiki dan tetap
tinggal, atau biarkan saja kita tanggal?

0 Response to "Cinta Ini Membunuhku"
Post a Comment